KONTAK |  KEGIATAN | REKOMENDASI BUKU |

  • CM
    • Sekapur Sirih
    • Profil Charlotte Mason
    • 20 Butir Filosofi CM
    • Serial Home Education
    • Leksikon Metode CM
    • Bahan Belajar Metode CM
  • CMid
    • Tentang CMid
    • Keanggotaan CMid
  • KOLOM
  • PODCAST
CMIndonesia.com
  • BAHAN BELAJAR
    • PRINTABLES
      • KERTAS BERGARIS
    • REKOMENDASI BUKU #1
  • CYB
    • DESKRIPSI CYB
    • RESELLER & DROPSHIPPER
  • ARTIKEL
    • Opini
    • Resensi
    • Sosok
    • Tanya Jawab
    • Wawancara
    • Praktik CM
    • Refleksi CM
    • Pengasuhan
    • Pengembangan Diri
    • Kata Riset
    • Mancanegara
  • BERITA
  • CM
    • Sekapur Sirih
    • Profil Charlotte Mason
    • 20 Butir Filosofi CM
    • Serial Home Education
    • Leksikon Metode CM
    • Bahan Belajar Metode CM
  • CMid
    • Tentang CMid
    • Keanggotaan CMid
  • KOLOM
  • PODCAST
  • BAHAN BELAJAR
    • PRINTABLES
      • KERTAS BERGARIS
    • REKOMENDASI BUKU #1
  • CYB
    • DESKRIPSI CYB
    • RESELLER & DROPSHIPPER
  • ARTIKEL
    • Opini
    • Resensi
    • Sosok
    • Tanya Jawab
    • Wawancara
    • Praktik CM
    • Refleksi CM
    • Pengasuhan
    • Pengembangan Diri
    • Kata Riset
    • Mancanegara
  • BERITA
November 19, 2011  |  By admin In Mancanegara
Menjadi Guru Sehari
Saya belajar banyak dari pengalaman menjadi guru. (Dok. Istimewa)
Saya belajar banyak dari pengalaman menjadi guru. (Dok. Istimewa)
Post Views: 295

Oleh: Erin Pavlina

Beberapa tahun lalu, saya menjadi guru pengganti di Los Angeles. Ini kerja berat. Saya sama sekali tidak mendapat pelatihan. Saya diminta masuk kelas dan melanjutkan yang terakhir diajarkan guru tanpa tahu silabusnya atau nama-nama muridnya.

Tak heran, guru-guru pengganti sangat diremehkan. Tapi sahabat saya ini adalah guru kelas dua di sekolah yang sangat bagus di belahan elit Los Angeles dan dia selalu menghubungi saya kalau butuh pengganti. Saya menikmati mengajar di kelasnya karena dia akan meninggalkan catatan-catatan rinci tentang apa saja dan siapa saja. Siswa-siswinya adalah murid-murid paling manis yang pernah saya jumpai.

Saya sedang menjalankan tugas selama 3 hari di kelasnya karena dia pergi memberi pelatihan pada guru-guru lain. Saya berkeliling dan meminta siswa bergantian membaca keras-keras dari buku pelajaran. Ketika kami sampai pada giliran anak yang satu ini, aku sebut saja Jason, terlihat sekali ada suasana gelisah di kelas. Salah satu anak di bangku depan mencoba untuk memperingatkan saya tentang sesuatu, tapi saya tidak memahaminya.

Ketika Jason mulai membaca, dia tampak sangat tidak nyaman. Dia kesulitan membaca hampir setiap kata dari bagian bacaannya. Saya baru sadar setelah beberapa kalimat bahwa dia belum bisa membaca. Mukanya merah seperti kepiting rebus karena malu. Saya cepat-cepat pindah ke murid lain supaya dia tidak tambah malu. Saya tidak lagi memberinya giliran membaca setelah itu.

Nah, Jason ini sangat menonjol di bidang olahraga. Dia anak berbadan paling besar di kelas, dan saat istirahat semua anak ingin menjadi anggota timnya atau bermain dengannya. Dia sangat dikagumi di lapangan. Di pelajaran lain hari itu, saya mengajak anak-anak ke ruang seni karena mereka ditugaskan menggambar anjing dalmatian. Saya berjalan berkeliling kelas dan melihat dengan takjub gambar anjing Jason yang luar biasa, indah, hampir sempurna. Dia betul-betul seniman yang hebat, jauh melampaui kemampuan umurnya. Saya beritahu dia betapa indah lukisannya, dan saya lihat dia sangat bangga dengan kemampuan seninya. Lalu saya memberi anak-anak pekerjaan rumah untuk pelajaran mengeja dan itulah akhir hari pertama.

Pada hari kedua, sementara saya sedang menilai PR mengeja, saya temukan Jason mengeja salah hampir semua kata. Aku pikir ini aneh sekali karena ini bukan ujian, dia tinggal menyalin kata-kata itu dari buku, tapi ternyata hasilnya tetap seperti itu. Barangkali dia cuma malas, batin saya. Tapi rasanya tidak begitu. Barangkali orangtuanya tidak ada waktu membantunya, saya pikir. Tapi kok sepertinya juga bukan karena itu. Saya bertanya-tanya apa dia punya gangguan belajar seperti disleksia atau yang lain. Atau barangkali dia itu anak dengan gaya belajar kinestetis, bukannya visual atau auditoris seperti kebanyakan anak yang lain. Tingkat kemampuan artistik dan kekuatan fisiknya bagi saya menjadi tanda-tanda bahwa mungkin begitu.

Sementara hari kedua hampir berakhir, saya memanggil Jason dan bicara empat mata. Anak-anak lain ditugasi lagi menuliskan kata-kata yang harus dieja. Tapi saya bilang pada Jason bahwa saya mau dia menggambar, bukan menulis,kata-kata yang harus dia eja. Dia kelihatan bingung. Saya bilang, “Jangan tulis kata per kata di atas garis. Gambar saja kata-kata itu. Kau boleh mewarnainya, membuatnya besar atau kecil, mendekorasi kata-kata itu, gambar saja apa saja yang kau suka. Hanya, ejalah setiap kata sesuai contohnya saat kau menggambarnya.” Dia suka gagasan itu.

Pada hari ketiga ketika ia menyerahkan pekerjaan rumahnya, mengherankan! Dia mengubah kata-kata yang harus dieja itu menjadi karya seni yang indah dan semua kata itu dieja dengan benar! Dia merasa puas dengan hasil karyanya dan anak-anak yang berseru ohhh dan ahhh melihatnya. Saya bilang ke dia untuk menggambar tugas ejaannya lagi malam itu dan dia berjanji akan melakukannya. Waktu saya bersama anak-anak sudah usai dan saya mengucapkan salam perpisahan.

Esoknya adalah hari Jumat dan sahabat saya memberi tes ejaan kepada murid-muridnya. Dia menelepon saya kemudian dan berseru, “Kau apain si Jason? Selama ini ulangan mengejanya selalu jeblok, tapi kali ini dia dapat 100! Dan kenapa dia menyerahkan PR-nya dengan hiasan marker, krayon, dan glitter? Kamu bikin apa sih?” Perasaan saya bergejolak saking gembiranya memikirkan Jason! Saya menjawab, “Aku kasih dia cara baru untuk mengeja yang aku pikir lebih pas dengan gaya belajarnya.”

Kami mendiskusikan dugaan saya bahwa Jason anak kinestetis dan sahabat saya sangat bersemangat. Dia bilang dia akan membiarkan Jason bereksperimen belajar memakai gaya belajar kinestetis ketimbang gaya visual yang disukai oleh sistem sekolah. Di akhir tahun, Jason telah hampir berhasil mengejar tingkat kemampuan membaca, menulis, dan berhitung anak-anak yang lain. Sahabat saya bilang rasa percaya diri Jason membumbung tinggi dan dia tidak lagi menolak disuruh membaca di hadapan teman-temannya.

Saya belajar banyak dari pengalaman menjadi guru pengganti.

Facebook Comments

Article by admin

Admin CMid dapat dihubungi di 081-22-88-33-904.

Previous StoryMengapa Siswa Belajar Demi Nilai Bagus, Bukan Mencari Ilmu?
Next StorySistem vs. Metode Pendidikan

Related Articles

  • dice_736_420
    Pelajaran Berhitung Pertama Anak Prasekolah
    View Details
  • ular naga_736_420
    Apa Ruginya Kalau Anak Tidak Kenal Ninabobo dan Tembang Dolanan?
    View Details

no replies

Leave your comment Cancel Reply

(will not be shared)

Charlotte Mason Indonesia

Media informasi pendidikan karakter. Menyajikan beragam berita, gagasan filosofis sampai tips dan trik bagi orang tua dan guru agar berhasil mendidik anak menjadi pribadi yang “berpikir tinggi, hidup membumi.”

Cinta yang Berpikir. Penulis: Ellen Kristi

Terbaru

  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #9 October 8, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #12 October 4, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #8 September 13, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11 September 1, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #7 August 26, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #10 August 2, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #6 July 18, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #9 July 2, 2024
  • Surat Terbuka CMid tentang Kebijakan “Sastra Masuk Kurikulum” June 3, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #5 June 16, 2023

Arsip

Charlotte Mason Indonesia

Alamat
Jl. Jeruk VII/24
Semarang 50249

Jam Kegiatan:
Senin—Jumat: 9:00AM–5:00PM

POPULER

  • Menyembuhkan Anak dari Kebiasaan Berlambat-lambat, Melamun dan Menunda-nunda 21 views | 0 comments | by Ellen K | posted on April 17, 2020
  • Rekomendasi Buku Terjemahan AO 16 views | 0 comments | by admin | posted on November 9, 2021
  • Rekomendasi Buku Lokal dan Terjemahan Selain AO 15 views | 0 comments | by admin | posted on November 8, 2021
  • Profil Charlotte Mason 10 views | 0 comments | by admin | posted on November 22, 2017
  • Mitos Gaya Belajar dan Salah Kaprah Kecerdasan Majemuk 9 views | 0 comments | by Ellen K | posted on March 14, 2019

KOMENTAR TERKINI

  • Ellen K on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11
  • sari kartika on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11
  • Ellen K on Mengapa Siswa Belajar Demi Nilai Bagus, Bukan Mencari Ilmu?
  • Arizul Suwar on Mengapa Siswa Belajar Demi Nilai Bagus, Bukan Mencari Ilmu?
  • Ellen K on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #5
  • Wijayanti on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #5

Visitors

Today: 8

Yesterday: 585

This Week: 16613

This Month: 86703

Total: 1109636

Currently Online: 153

Copyright ©2011-2021 Charlotte Mason Indonesia. All Rights Reserved. || Web Development: Whoups Creative Co.