KONTAK |  KEGIATAN | REKOMENDASI BUKU |

  • CM
    • Sekapur Sirih
    • Profil Charlotte Mason
    • 20 Butir Filosofi CM
    • Serial Home Education
    • Leksikon Metode CM
    • Bahan Belajar Metode CM
  • CMid
    • Tentang CMid
    • Keanggotaan CMid
  • KOLOM
  • PODCAST
CMIndonesia.com
  • BAHAN BELAJAR
    • PRINTABLES
      • KERTAS BERGARIS
    • REKOMENDASI BUKU #1
  • CYB
    • DESKRIPSI CYB
    • RESELLER & DROPSHIPPER
  • ARTIKEL
    • Opini
    • Resensi
    • Sosok
    • Tanya Jawab
    • Wawancara
    • Praktik CM
    • Refleksi CM
    • Pengasuhan
    • Pengembangan Diri
    • Kata Riset
    • Mancanegara
  • BERITA
  • CM
    • Sekapur Sirih
    • Profil Charlotte Mason
    • 20 Butir Filosofi CM
    • Serial Home Education
    • Leksikon Metode CM
    • Bahan Belajar Metode CM
  • CMid
    • Tentang CMid
    • Keanggotaan CMid
  • KOLOM
  • PODCAST
  • BAHAN BELAJAR
    • PRINTABLES
      • KERTAS BERGARIS
    • REKOMENDASI BUKU #1
  • CYB
    • DESKRIPSI CYB
    • RESELLER & DROPSHIPPER
  • ARTIKEL
    • Opini
    • Resensi
    • Sosok
    • Tanya Jawab
    • Wawancara
    • Praktik CM
    • Refleksi CM
    • Pengasuhan
    • Pengembangan Diri
    • Kata Riset
    • Mancanegara
  • BERITA
February 23, 2017  |  By Ellen K In Kolom
Kontroversi Buku “Saru”
Buku "saru", hanya masalah tabu? (Dok. Istimewa)
Buku "saru", hanya masalah tabu? (Dok. Istimewa)
Post Views: 330

Buku anak terbitan Tiga Serangkai “Aku Belajar Mengendalikan Diri” ramai dibicarakan netizen seminggu ini terkait kontennya yang dinilai pornografis. Saya belum membaca buku itu dan tentu akan sulit mencarinya karena sudah tidak lagi diedarkan, tapi saya punya satu kesan kuat terkait kasus ini.

Kesan saya adalah: penulisan, penerbitan, dan peredaran buku anak kita sangat disetir oleh sentimen pasar, tetapi kode etik dalam industri buku masih payah. Selain soal problem di kontennya, ada problem di nalar yang menguasai industri buku kita.

Mirip seperti di dunia kuliner, kalau ada menu baru yang laris dan ngetren, berbondong-bondong pedagang lain akan menjual menu serupa. Begitu juga di dunia buku. Penerbit mana yang tidak “ngiler” kalau melihat ada genre buku yang sukses meraup omset miliaran rupiah? Jadilah dia tertarik ikut menerbitkan genre buku serupa.

Dalam bisnis, meniru adalah sesuatu yang wajar. Namun, meniru juga mesti ada kode etiknya, apalagi di dunia penulisan. Kita bicara soal karya intelektual, yang amat sangat perlu dihargai. Secara umum ada hukum tentang hak cipta yang melindunginya. Secara moral, editor dan penulis harus tetap hati-hati dalam mengeluarkan karya sesuai sasaran pembacanya dan mempertimbangkan hubungan baik dengan pihak yang ditirunya.

Adanya peniruan ide saya lihat jelas dalam kasus buku terbitan Tiga Serangkai ini. Seri “Aku Bisa Melindungi Diri Sendiri” ini baik konsep maupun tampilannya sangat mirip dengan serial buku “Aku Anak yang Berani: Bisa Melindungi Diri Sendiri” karya penulis laris Watiek Ideo.

Sejak diterbitkan tahun 2014, buku Watiek Ideo tersebut telah dicetak ulang sampai enam kali, dipakai oleh banyak orangtua, guru, dan sekolah. Omsetnya jelas tidak kecil. Barangkali karena itulah penerbit Tiga Serangkai berminat membuat buku sejenis, bahkan sangat mirip. Setelah mendapat penulis yang mau bekerjasama mengeksekusi, diterbitkanlah serial dengan format, tipe ilustrasi, sampai tagline sangat mirip. Orangtua kebanyakan bakal sulit membedakan, kalau bukan dari harganya.

Akibatnya, ketika terjadi heboh yang diikuti penarikan buku Tiga Serangkai dari peredaran, buku-buku Watiek Ideo juga terkena imbas ikut ditarik dari toko-toko. Konon secara pribadi, editor dari Tiga Serangkai sudah meminta maaf secara pribadi kepada Watiek. Minta maaf memang sudah seharusnya, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Hancurnya citra buku dan penulis yang sudah dibangun lama, tentu tidak mudah dipulihkan.

Saya lihat di sini pun, toko-toko buku offline maupun online tidak bersikap sesuai apa yang benar, tetapi berdasar pendapat publik. Toko buku besar seperti Gramedia pun jadi “ketakutan” memajang buku Watiek Ideo dan memilih menyimpannya dulu di gudang. Ternyata nalar ekonomi memang luar biasa kuat, lebih mendikte dibanding citarasa literasi (seperti apa kualitas bukunya?), apalagi rasa keadilan (mengapa pihak yang tidak bersalah harus ikut menanggung akibat perbuatan orang lain?).

Saya hanya berpikir, kasihan anak-anak Indonesia jika industri bukunya dikuasai oleh nalar ekonomi dan sentimen pasar seperti ini. Ketika buku-buku ditulis sebatas menyesuaikan diri dengan tren, editor dan penulis mengabaikan asas kepatutan dalam menerbitkan karya, juga toko-toko buku berdagang tanpa idealisme, tampaknya masih jauh harapan melihat mekar suburnya sastra anak Indonesia yang kaya ragam dan berkualitas.

Facebook Comments

Article by Ellen K

Ellen Kristi. Ibu tiga anak homeschooler, praktisi metode CM dan penulis buku "Cinta Yang Berpikir", berdomisili di Semarang. Dapat dihubungi lewat ellenkristi@gmail.com

Previous StoryBelajar Karena Suka vs Belajar Karena Paksaan
Next StoryMelawan Glorifikasi Kanibalisme

Related Articles

  • nino2-678×381
    Tentang Kurikulum yang Berpihak kepada Anak (Tanggapan untuk Nino Aditomo)
    View Details
  • AP Photo/John Minchillo
    Wabah Corona dan Godaan untuk Online Terus-Menerus
    View Details

no replies

Leave your comment Cancel Reply

(will not be shared)

Charlotte Mason Indonesia

Media informasi pendidikan karakter. Menyajikan beragam berita, gagasan filosofis sampai tips dan trik bagi orang tua dan guru agar berhasil mendidik anak menjadi pribadi yang “berpikir tinggi, hidup membumi.”

Cinta yang Berpikir. Penulis: Ellen Kristi

Terbaru

  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #9 October 8, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #12 October 4, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #8 September 13, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11 September 1, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #7 August 26, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #10 August 2, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #6 July 18, 2024
  • DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #9 July 2, 2024
  • Surat Terbuka CMid tentang Kebijakan “Sastra Masuk Kurikulum” June 3, 2024
  • DIBUKA: Kelas Cinta yang Berpikir Angkatan #5 June 16, 2023

Arsip

Charlotte Mason Indonesia

Alamat
Jl. Jeruk VII/24
Semarang 50249

Jam Kegiatan:
Senin—Jumat: 9:00AM–5:00PM

POPULER

  • Pengantar Rekomendasi “Living Books” Tim Kurikulum CMid 31 views | 0 comments | by admin | posted on November 10, 2021
  • Rekomendasi Buku Terjemahan AO 29 views | 0 comments | by admin | posted on November 9, 2021
  • Menyembuhkan Anak dari Kebiasaan Berlambat-lambat, Melamun dan Menunda-nunda 19 views | 0 comments | by Ellen K | posted on April 17, 2020
  • Rekomendasi Buku Lokal dan Terjemahan Selain AO 17 views | 0 comments | by admin | posted on November 8, 2021
  • Mengapa Orangtua Sama, tapi Watak Anak Berbeda-beda? 10 views | 0 comments | by Ellen K | posted on May 31, 2021

KOMENTAR TERKINI

  • Ellen K on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11
  • sari kartika on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #11
  • Ellen K on Mengapa Siswa Belajar Demi Nilai Bagus, Bukan Mencari Ilmu?
  • Arizul Suwar on Mengapa Siswa Belajar Demi Nilai Bagus, Bukan Mencari Ilmu?
  • Ellen K on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #5
  • Wijayanti on DIBUKA: Sosialisasi CM dan CMid Angkatan #5

Visitors

Today: 511

Yesterday: 650

This Week: 27961

This Month: 121015

Total: 1157419

Currently Online: 175

Copyright ©2011-2021 Charlotte Mason Indonesia. All Rights Reserved. || Web Development: Whoups Creative Co.